“I love rainy day.”
Hari Rabu, tanggal 19 November 2008. Ting-ting ultah.
Gw ada training WL di KTC, hari terakhir si, sebenernya buat bagi sertifikat tapi ternyata belum ditanda tangan, so harus ambil lagi lain hari. Hari ini yang dateng Kak Sherly Berhitu (sori kl salah penulisan nama, abis cuma sering manggil aja).
Trainingnya selesai jam 8 malam, gw jalan-jalan sebentar ke Matahari. Liat-liat ga ada yang berminat, ya kita pulang. Di tempat parkiran gw denger kalo diluar hujan… ya lumayan besar. Langsung de siap-siap pake jas hujan. Bener aja hujannya lumayan besar pas keluar KTC. Sampe rumah masih hujan. Hawanya enak banget…. karena ujan.
Kalo hujan gw ga tau kenapa seneng banget. Emang si kalo hujan terus-terusan ga terlalu bagus juga, bisa-bisa ga dapet sinar matahari n kalo mau pergi kemana-mana pasti susah palagi buat yang naik motor. But, I still love rainy day.
Gw dengerin suara hujan dari dalam kamar. Sambil tidur-tiduran. Tik tik tik…. hujannya ga terlalu besar tapi terus-terusan. Sebelum gw tidur pun masih hujan, ga tau berentinya kapan. Kalo denger bunyi hujan, rasanya ada perasaan asik. Tenang, seger, sejuk, nyaman, dingin. Brrrrr…… Gw ambil selimut, tutupin badan dengan selimut…. sedikit hangat…. lalu…. tidur.
Vary | Comment (0)Motor Jadul (nostalgia)
Semangat!!
Kemaren malem tidur terlalu larut ni… jam 1 baru bobo. Bangun pagi-pagi melakukan rutinitas yang sama lagi, yaitu pergi ke kantor. Biasa, sekarang kan tiap pagi pasti dianter ma suami naik motor. Motornya pake motor Honda Supra X125D, uda motor keluaran baru lah, tahun 2000 an punya, milenium.
Jalanan tadi pagi yang dilewatin juga sama, pastinya tempat-tempat yang dilihat juga sama…. Mapple Park Apt, Jembatan layang PRJ, Mega Glodok Kemayoran, Katedral Mesias (Reformed Church), Gedung Pelni, Pasar, Golden Truly, Gedung Kesenian Jakarta, Kantor Pos Pusat, Gereja Katedral n Masjid Istiqlal, Istana Negara, Tanah Abang (TA) I, TA II, TA III, terakhir adalah kantor.
Tapi apa yang membuat perjalanan kali ini jadi berbeda?
Dalam perjalanan yang memakan waktu kira-kira 30 menit itu, gw melihat banyak sekali motor-motor keluaran tahun lama, kebanyakan tahun 1990an punya, yang model-model motornya bukan seperti keluaran tahun 2000an. Bentuknya uda rada kucel, ditambah lagi tadi malem abis ujan n jalanan becek, jadilah motor-motor jadul itu tambah keliatan tak terawat. Lucu deh, gw ngeliat motor jadul banyak banget, ga seperti hari-hari biasa.
Jadi keingetan dulu juga papa pake motor jadul banget, yaitu motor VESPA yang bodinya gede. Dengan naik motor itu gw dianterin sekolah, dianterin kemana-mana. Sampe akhirnya punya mobil, itu pun masih sering dianter pake motor Vespa. Gw inget waktu itu naik motor Vespa diboncengin di belakang n gw pake rok (kebayang donk ya..). Motor Vespa tersebut dijual karena memang uda ga terlalu kepake n ada orang lain yang lebih membutuhkan.
Selanjutnya…. Daniel sebelum punya motor Honda Supra X125D, pake motor (kalo ga salah Honda Supra Fit) yang bunyi knalpotnya memekakkan telinga. Tapi dulu pacaran gw diboncengin pake motor itu, hehehehe….. Akhirnya bli baru lagi motornya n bli mobil juga, motor lamanya dijual ke warung deket rumah.
Kalau liat motor-motor jadul itu rasanya mau ketawa… bentuk-bentuknya itu loh yang ngebuat jadi lucu…. ada yang sayapnya lebar, bentuknya kotak, bodinya gede, mesinnya gede, bodinya jelek, dll. Kalo diliat dari bentuk n bodi motor, yang terbaru lebih ergonomis n lebih enak diliat. But, kl soal keempukan tempat duduknya, kayanya masih lebih asik yang motor jadul de, hehehehe……
Vary | Comment (0)“Berasal dari HATI??”
Sekali waktu suami saya bercerita kepada saya. Hari itu dia pergi ke salah satu bank di Jakarta untuk mengambil uang. Pada saat dia akan melangkah masuk, ada satpam yang sudah berdiri membukakan pintu untuk dia. Satpam itu menyapa, “Selamat siang, Pak..” dengan suara lantang. Lanjut lagi satpam itu bertanya, “Ada yang bisa dibantu, Pak?”. Sumai saya hanya menjawab seadanya, namun dijawab oleh satpam tersebut, “Silahkan, Pak.” sambil tangannya menunjuk ke dalam.
Selama suami saya mengantri, tentunya ada beberapa orang yang keluar masuk bank tersebut. Dia mendengar salam, kata-kata dan ujaran dari satpam penjaga pintu tersebut. “Selamat siang, Pak.” “Ada yang bisa dibantu, Pak?” “Terima kasih, Bu.” “Terima kasih atas kunjungannya, Bu.” “Selamat jalan, Pak.” Kata-kata tersebut selalu berulang untuk orang yang keluar masuk bank dan diucapkan dengan nada dan intonasi yang monoton. Suami saya mendengar ucapan yang keluar dari mulut satpam tersebut, tertawa kecil. Dia juga menceritakan hal tersebut kepada saya dengan tertawa lebar. Saya pun setelah diceritakan langsung tertawa, dan saya menyarankan lain kali keluar masuk saja, pasti kata-kata yang sama yang akan diucapkan. Cape deh. Hahahaha…..
Ada lagi, suatu saat saya bersama suami pergi ke Bogor, kami makan di salah satu restoran yang cukup terkenal.Awal pertama kami menjejakkan kaki di teras restoran, sudah ada suasana nyaman. Kami mengambil tempat di tingkat dua. Setelah kami duduk, ada pelayan yang memberikan kami menu dan mencatat pesanan kami. Bukan soal makanannya yang membuat kami terkesan, tapi pelayanan dari restoran tersebut. Sebelum kami pulang, tentunya kami membayar terlebih dahulu, suami memberikan uang yang lebih dari harga yang ada di bon.
“Ini Pak kembaliannya, mohon dihitung kembali.” kata-kata kasirnya diiringi dengan senyuman. “Terima kasih ya, Pak. Lain kali datang lagi. Hati-hati di jalan.” Kami pun berpisah dengan senyuman puas. Kami segera masuk ke mobil untuk balik ke Jakarta. Pada saat kami akan membayar uang parkir ke petugas parkir, petugas parkirnya menyatukan kedua telapak tangannya dan berkata, “Parkir gratis, Bos. Silahkan jalan, hati-hati di jalan.” Kami berdua tersenyum lagi, kami tambah terkesan lagi dengan pelayanan di restoran tersebut, rasanya puas sekali kami pergi kesana.
Saya berdua dengan suami segera membandingkan antara kedua kejadian di atas. Kami melihat perbedaan yang sangat mendasar dari pelayanan di kedua tempat tersebut. Kami merasakan kalau pelayanan satpam bank terkesan dipaksakan, namun pelayanan orang-orang di restoran berasal dari hati yang memang ingin memberikan kepuasan kepada orang yang datang. Kami langsung membandingkan dengan pelayanan kami kepada Tuhan. Kadang kami merasa terpaksa sehingga hati kami merasa terbebani, yang seharusnya…. pelayanan itu berasal dari hari, hati yang melayani Tuhan. (J)
“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”
I Petrus 4:10
Teh Susu | Comment (0)Hai hai
Hai hai…
wah kalau soal tulis langsung di blog uda lama banget ga dilakukan. Karena selama ini kalau nulis di word dulu baru copy paste ke blog. Rasanya gatel juga uda lama ga nulis di blog. Hehehe… kemaren itu copy paste beberapa artikel n puisi yang ditulis sendiri. Ada artikel tentang empati dari Andy F. Noya yg benar-benar menggugah hati n mau dishare ke temen-temen lain. Ada beberapa comment. Baca ya n kalo bisa kasih comment juga. Semoga apa yang ditulis di sini menjadi berkat.
Vary | Comment (0)Nostalgia
Aku mau belajar lagi sampai malam
Saat-saat tegangku untuk test akhir
Ya, terakhir di SMA
Semua akan berpisah
Walaupun dekat tapi tetap akan jauh
Hari-hari yang telah kulalui di bangku kecil itu
Dengan keceriaan
Dengan kesedihan
Dengan kegembiraan
Dengan ketegangan
Dan dengan kebersamaan
Semua akan terlewati
Seiring dengan hari-hari yang terus berlanjut
Ini memang harus berakhir sampai disini
Segala keceriaan
Segala kesedihan
Segala kegembiraan
Segala ketegangan
Dan segala kebersamaan
Entah itu akan terualang
Ataukah itu hanya menjadi suatu prasasti
Yang terpatri dalam setiap hati
Ataukan itu semua akan hilang
Dengan terbangnya angin
Sehingga tiada kenangan
Tiada ingat
Tiada setitik tempat di hati
Segala keceriaan
Segala kesedihan
Segala kegembiraan
Segala ketegangan
Dan segala kebersamaan
Yang telah lalu
CC
01-06-2001, setengah 1 pagi
Toex: teman-teman di Gandhi School kelas III IPA2
“Thank u for the best time I’ve ever had”
Poem | Comment (0)Bulan Juni
Bulan Juni
Semua bercampur baur
Senang, sedih, jengkel, hilang
Senang…
Semua sudah beres
Semua lulus
Semua bersenang-senang
Pergi bersama-sama melewati hari-hari terakhir
Hari-hari yang hanya akan jadi kenangan
Sedih…
Hari-hari itu sudah terleewati
Selama yang sudah dijalani
Kenangan-kenangan indah yang hanya bisa diingat
Saat berpisah
Saat terakhir
Saat kehilangan cerita indah
Jengkel…
Merasa marah dalam hati
Merasa lelah dan capai dalam menjalani bulan ini
Merasa benci dengan segalanya
Rasa ini meluap-luap penuh emosi
Emosi yang harus diampuni
Hilang…
Setelah satu atau dua atau tiga tahun terlewati
Saat inilah saat kehilangan, kosong dan hampa
Dimana hari-hari yang dilewati dengan keriangan
Sekarang sudah hilang
Sekarang hanya jadi sebagian kisah hidup
Sekarang hanya kenangan
Semua begitu cepat berlalu
Senang, sedih, jengkel, hilang
Saat-saat indah
Merasa terlewati segala yang indah
Sekarang ditutup oleh lembaran biru nan indah
Di bulan Juni yangmelelahkan namun indah
CC
28-06-2001, pk. 22.30
Bulan yang melelahkan dimana segalanya berjalan dengan cepat dan tau-tau semua sudah berakhir
To: All my friendz at Gandhi School n BTG
“It’s over and from now on we should face another thing. Bye my friendz.”
Poem | Comment (0)Bangkitlah dan Jadilah Terang
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu.” YESAYA 60:1-3
Coba kita bayangkan saat ini… kita sedang berada di rumah tiba-tiba lampu dari PLN pusat dimatikan semua… dan pada saat kita mencari-cari senter atau lilin ternyata tidak ada. Apa yang dilihat? Apa yang bisa dilakukan?
Tentunya yang dilihat hanya kegelapan yang pekat. Kita tidak bisa melihat apa-apa karena untuk melihat kita memerlukan cahaya. Kita mungkin hanya bisa berdiam diri saja, meraba-raba untuk berjalan supaya tidak terantuk dan jatuh
Lalu satu lagi… kita tutup kedua mata kita. Apa yang dilihat? Pastinya hanya kegelapan. Sama seperti mati lampu tadi, kita tidak bisa melihat apa-apa dan berjalan dengan meraba-raba.
Sekarang.. bagaimana kalau bumi ini tidak ada matahari, bulan, bintang dan tidak ada penerangan apapun? Wah mungkin kita bisa saling bertabrakan pada saat jalan dan kita pasti tidak bisa berbuat apa-apa.
Seperti juga kita, dahulu hidup dalam kegelapan. Kita tidak mengetahui kebenaran dan hidup jauh dari Allah. “Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi dan kekalaman menutupi bangsa-bangsa” Yesaya 60:2a. Namun saat ini kita sudah merdeka di dalam Tuhan, melalui kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib. Ia sudah menanggung segala dosa kita dan kita sudah dibawa dari kegelapan kepada terang. “tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu” Yesaya 60:2b.
Nah… sekarang apa yang akan kita perbuat setelah kita berada dalam terang?? Bukan hanya diam-diam saja tentunya. Salah satu orang yang disembuhkan Tuhan Yesus dari kebutaannya tidak hanya berdiam diri setelah dia menerima kesembuhan, tetapi dia segera pergi menceritakan apa yang telah dia alami. Begitu juga kita, kita telah menerima keselamatan, tentunya kita tidak akan berdiam diri saja. Banyak hal yang bisa kita lakukan di dalam kebebasan. Kita bisa mengabarkan Injil, melayani di gereja, melayani di pekerjaan kita, dll. Intinya kita harus bangkit, tidak berdiam. Kita juga harus menjadi terang dimanapun kita ditempatkan oleh Tuhan sekalipun itu di bidang sekuler. “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu.” Yesaya 60:1.
Kalau kita menjadi terang dimanapun kita berada pastinya terang itu akan memancar kemana-mana dan terang itu menjadi nyata disekekeliling kita. Mungkin tanpa kita sadari, orang-orang disekeliling kita yang belum mengenal Tuhan Yesus akan mengenal Dia dan akhirnya percaya kepada Dia. Orang-orang yang telah melihat Yesus dalam hidup kita akan datang dengan sendirinya untuk mengenal Yesus Kristus tanpa kita injili. “Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu.” Yesaya 60:3.
Ok, friends… jadi kita yang sudah memiliki kelepasan dalam Tuhan Yesus tidak akan berdiam diri saja. Kita mau bekerja giat melayani Tuhan dan memancarkan terang Tuhan dimanapun kita berada. Kita harus memiliki hati yang rindu untuk terang itu bukan hanya kita yang memiliki tapi juga orang-orang yang masih berada dalam kegelapan. (J)
Teh Susu | Comment (0)Kehidupan yang Merdeka
“Merdeka atau mati?!”
Pernah dengar seruan seperti itu? Pasti pernah donk ya. Apalagi kalau kita pernah belajar tentang sejarah perjuangan para pahlawan Indonesia. Mereka mempunyai prinsip dalam perjuangan mereka adalah merdeka atau mati. Pilihannya hanya 2, para pahlawan mati atau berjuang terus untuk kemerdekaan Indonesia dari penjajahan. Coba dipikirkan, kita maunya merdeka atau mati? Pastinya mau merdeka, karena kematian itu digambarkan sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Kematian berarti tidak hidup lagi, hilang nyawa. Merdeka berarti bebas dari tekanan, bebas dari penjajahan, tidak terikat.
Sekarang Indonesia sudah berada dalam situasi merdeka dari penjajah. Kita juga merayakan hari kemerdekaan Bangsa Indonesia setiap tanggal 17 Agustus. Apa yang bisa kita renungkan dari kemerdekaan Indonesia? Bagaimana dengan diri kita, apakah kita sudah menjadi manusia yang merdeka? Merdeka dari apa?
Kita harus merdeka dari dosa sehingga dari kemerdekaan itu kita memperoleh kehidupan. Kita akan sama-sama melihat dari Roma 8:1-14.
Hidup kita dahulu adalah di dalam dosa, ada dosa asal yang kita sandang dari lahir. Karena dosa itulah kita akan mati. Kita hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging, hidup berseteru dengan Allah, tidak berkenan kepada Allah dan berujung kepada maut. Beberapa perbuatan daging dijabarkan pada Galatia 5:19-21a yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, … dan sebagainya. Jadi bagaimana kita bisa merdeka?
Tuhan memberikan jalan keluar yang terindah melalui Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus. Yesus diutus oleh Bapa-Nya untuk datang ke dunia menjadi sama dengan manusia (namun Ia tidak berdosa) supaya hukuman dosa yang seharusnya kita tanggung, ditanggung oleh Yesus Kristus. Jadi kita sudah dimerdekakan dari hukum dosa dan hukum maut. Sekarang yang menjadi bagian kita adalah kita mengaku dengan mulut kita bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan percaya dalam hati bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat kita (Roma 10:9).
Namun tidak sampai disitu saja, Tuhan juga memateraikan kita dengan Roh Kudus (Efesus 1:13b). Roh Kudus diam di dalam hidup kita, sehingga kita tidak lagi hidup menurut daging melainkan menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh sehingga kita hidup dan merasakan damai sejahtera. Kita juga harus hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Bagaimana hidup dipimpin oleh Roh Kudus? Bagaimana kita bisa dipimpin oleh Roh Kudus?
Hidup dipimpin oleh Roh Kudus adalah membiarkan hidup kita dibimbing oleh Roh dalam kebenaran Firman Tuhan. Jadi, kita harus membangun pesekutuan dengan Roh Kudus melalui doa dan pembacaan Firman Tuhan setiap hari sehingga kita dapat mengetahui kebenaran. Hidup kita juga akan dipenuhi oleh buah Roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22-23a). Dan pada akhirnya kita akan mengalami kehidupan yang merdeka dari dosa. (J)
Teh Susu | Comment (0)Mau Diberkati??
Sekali waktu, seorang pendeta tamu datang untuk memberikan khotbah di gereja. Kalo soal nama, saya lupa. Ada satu cerita dari pengalaman pendeta tersebut yang selalu saya ingat. Saya juga lupa dia berkhotbah tentang apa, tapi entah kenapa cerita tersebut diceritakan pada saat dia berkhotbah. Pendeta tersebut bercerita, “Saya pernah bilang kepada istri saya. Mari buktikan, kamu tidak membayar perpuluhan, saya akan bayar perpuluhan saya.” Ternyata yang lebih diberkati dalam pekerjaan adalah pendeta tersebut (dulu dia bekerja). Saya selalu teringat akan cerita singkat tersebut walaupun khotbah itu sudah disampaikan beberapa tahun yang lalu. Pada saat saya teringat cerita tersebut, saya teringat untuk membayar perpuluhan setiap bulannya.
Sekali lagi saya diingatkan masalah perpuluhan pada saat mengikuti SPK(Saya Pengikut Kristus). Kalo di SPK, bukan terbatas hanya perpuluhan tapi keuangan seluruhnya. Judul materinya “Keuangan yang Merdeka”. Di dalamnya juga ada soal perpuluhan sih.
Kalo boleh mengambil materi SPK, saya diingatkan untuk SETIA MENGATUR, SETIA MENERIMA, SETIA MEMBERI. Ternyata yang berhubungan dengan uang bukan hanya soal memberi, tapi juga mengatur dan menerima. Ada beberapa orang yang saya tau mereka setia memberi bahkan banyak namun tidak setia mengatur, mereka terbelit hutang.
SETIA MENGATUR. Saya belajar untuk mengatur uang saya, dalam hal pengeluaran dan pemasukan. Saya diingatkan untuk tidak diatur oleh uang, karena kalau uang yang mengatur maka saya akan mengejar-ngejar uang. Saya mau uang yang mengejar-ngejar saya, hahahaha… Semua juga mau kan?
SETIA MENERIMA. Ternyata menerima juga harus setia, karena tanpa saya menerima saya tidak dapat memberi. Saya diingatkan untuk berdoa, rajin dan kreatif. Menerima bukan hanya diam-diam saja, lalu uang akan datang ke saya dengan sendirinya. Saya pun pastinya diajar Tuhan untuk bekerja supaya mendapatkan uang atau mungkin dengan cara-cara yang kretif (membangun bukan merusak).
SETIA MEMBERI. Persembahan yang selama ini saya berikan ternyata bukan hanya persembahan persepuluhan saja. Ada persembahan persepuluhan dan ada persembahan khusus. Persembahan khusus contohnya adalah persembahan yang kita berikan pada saat ibadah tiap minggunya atau kita memberikan persembahan kepada hamba-hamba Tuhan untuk memperluas Kerajaan Allah, dll. “Persembahan persepuluhan seperti pagar yang melindungi ‘ladang’ kita dan persembahan khusus seperti benih yang ditanam untuk menghasilkan buah.” Itu yang ditulis pada buku SPK.
Cara pandang saya terhadap uang segera berubah. Saya bersyukur karena saya masih bisa bekerja dan Tuhan mempercayakan saya untuk mengatur, menerima dan memberi dari apa yang saya punya, salah satunya uang saya. (J)
Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
Lukas 16:10
Teh Susu | Comment (0)EMPATI
Yang membuat ini adalah seorang jurnalis… bernama Andy F. Noya, sebagai perenungan saja….
Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji
di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas
karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada
yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula
yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.
Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.
Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak
terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika
saya terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa
saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru
saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang
berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas
makanan.
Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di
atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah.
Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh
tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah
berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa
makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang
pelayan sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa
makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta
anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga
pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan
teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah
ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika,
sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan
terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya
akan besar sekali bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti
besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan
sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ.
Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang
bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan,
umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan
keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja
setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya
hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan
merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal
asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku “Chicken Soup”, saya kerap
membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di
belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti
akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia
bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya
berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang
setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang
Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada
orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata
“terima kasih” saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian.
Menurut dia, kata “terima kasih” merupakan “magic words” yang akan
membuat orang lain senang. Begitu juga kata “tolong” ketika kita meminta bantuan
orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet,
bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari
istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir
kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. “Sementara
kamu kan tidak mengejar setoran?” Nasihat itu diperoleh istri saya dari
sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan
umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat
orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati
pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan
membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan
pekerjaan pelayan restoran.
Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah
membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang
permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan
kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di
antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga
apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang
membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah
sekarang juga.
